Pentingnya Manajamen Resiko untuk Keamanan Staff NGO / Aktivis dalam Berkegiatan “Pembelajaran Security Training Bersama Anggota Konsorsium Fair for All”


![]()
Pernahkah kita berpikir bahwa 1 tindakan kecil atau cuitan di social media yang kita lakukan untuk mengekspresikan perasaan terutama terhadap pemerintah, institusi negara, atau sektor swasta bisa mengakibatkan penangkapan, penculikan, bahkan penghilangan nyawa oleh pihak tidak berwenang? atau karena menyepelakan analisis resiko saat melangsungkan kegiatan program, berdampak terhadap staff, mitra, beneficiaries, dan organisasi? Penabulu yang sekarang menjadi prospective affiliate Oxfam diundang Oxfam Novib untuk mengikuti pelatihan bersama mitra dan anggota Oxfam lainnya. Kegiatan yang berlangsung selama 4 hari dihadiri oleh anggota konsorsium dari Cambodia, Ghana, Kenya, Nigeria, Palestine, Indonesia, dan Uganda. Kegiatan pembelajaran berlangsung selama 2 hari dengan trainer dari Tournons La Page, organisasi gerakan warga yang memiliki pergerakan sekitar 250 organisasi dari 16 negara.
Bersama 15 peserta dari berbagai negara dan background, trainer memberikan materi-materi dasar tentang cara menganalisa sebuah resiko, dari faktor politikal, lingkungan, dan kondisi organisasi. Peserta juga belajar mendefinisikan resiko, threat / ancaman, capacity / kapasitas, dan Vulnerability / Kerentanan. Resiko merupakan kemungkinan terjadinya peristiwa yang merugikan dan bisa berdampak individu / organisasi diperparah oleh threat atau indikasi niat untuk menimbulkan kerugian, hukuman, dan cedera, atau karena security incidents. Hal lainnya yang menaikkan tingginya resiko karena vulnerability / kerentanan yang bisa saja diakibatkan kejadian bencana.
Dari penjelasan trainer, peserta diajarkan cara menghitung resiko menggunakan rumus: Risk= Threat x Vulnerabilities : Capacity. Bahwa resiko bisa dianalisis dari seperti threat apa yang dialami individu / organisasi, vulnerabilities seperti apa yang menimbulkan resiko semakin buruk, namun dengan capacity yang dimiliki, resiko bisa berkurang.
Peserta juga diajarkan untuk risk matrix dan dikelompokan untuk mendiskusikan case study yang kemungkinan sesuai dengan kondisi negara. Tim Indonesia dikelompokkan dengan tim Cambodia, kedua tim membahas tentang 2 isu yang berkembang di negara masing-masing, tentang freedom of expression dan Penutupan Organisasi. Para peserta saling sharing cerita bagaimana kejadian di negara masing-masing, dan ditutup dengan presentasi serta feedback dari trainer.
Selain belajar mengenai Manajemen Resiko, trainer memberikan materi tentang Women Human Rights Defender, Digital Security. Lalu di hari ke-2, materi seputar Civic Space yang membahas kondisi secara umum, Dokumentasi untuk merekam kejadian, dan komunikasi advokasi. Meskipun secara case study dan materi lebih banyak memberikan contoh dari Afrika (Lokasi bekerja trainer), namun selama pembelajaran tersebut peserta dapat saling bertukar pengalaman di negaranya dan menceritakan situasi yang sedang terjadi.



Rekomendasi dan Tindak Lanjut
– Trainer memberikan kesempatan bagi tiap-tiap peserta jika membutuhkan masukan untuk security plan yang telah dibuat masing-masing organisasi
– Materi dapat diakses staff Penabulu
Nama
Unit/Direktorat/Proyek
Atasan Langsung
Date
- Nov 24 - 27 2025
- Expired!