Contact Us

Mail Us: info@penabulu.id

Menakar Ketangguhan Komunitas Lombok: Pembelajaran dari Monitoring Visit I CAN ACT Phase III 24–28 November 2025, Nusa Tenggara Barat

Monitoring visit I CAN ACT Phase III yang berlangsung pada 24 sampai 28 November 2025 memberikan gambaran penting tentang bagaimana kesiapsiagaan bencana berbasis komunitas berjalan dan berkembang di empat desa rawan banjir di Lombok Timur dan Lombok Barat. Seiring meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim, pendekatan antisipatif menjadi semakin relevan. Program I CAN ACT yang dijalankan oleh Yayasan Penabulu dan KONSEPSI dengan dukungan Oxfam Australia melalui ANCP DFAT menunjukkan bahwa ketangguhan komunitas tidak hanya bertumpu pada teknologi atau alat peringatan dini. Ketangguhan tumbuh dari relasi sosial, prakarsa lokal, serta kemampuan desa mengonsolidasikan berbagai aktor dalam kerangka kesiapsiagaan yang inklusif dan berkelanjutan.

Kunjungan monitoring ini membuka ruang observasi langsung terhadap dinamika desa, tingkat partisipasi masyarakat, efektivitas kelembagaan lokal, serta sejauh mana pendekatan gender diterapkan dalam kesiapsiagaan bencana. Dari empat desa intervensi Belanting, Obel Obel, Taman Ayu, dan Dasan Geria, muncul berbagai pembelajaran mengenai capaian, tantangan, dan peluang penguatan aksi antisipatif pada tahap berikutnya.

Kesiapsiagaan yang Menguat namun Belum Merata

Di semua desa, instrumen kebijakan seperti peraturan desa tentang penanggulangan bencana, SK pembentukan Tim Siaga Bencana Desa (TSBD), dan dokumen rencana kontinjensi sudah tersedia dan dipahami dengan baik. Peran teknis TSBD semakin jelas, sementara pemerintah desa menunjukkan komitmen pendanaan yang kuat melalui APBDes.

Beberapa desa seperti Belanting terlihat lebih mapan. Struktur TSBD aktif, koordinasi dengan pemerintah desa berjalan erat, dan latihan simulasi dilakukan secara rutin. Di Obel Obel, pengalaman atas banjir besar di masa lalu menciptakan kesadaran kolektif dan mendorong warga untuk terlibat aktif dalam mekanisme peringatan dini.

Walau demikian, kemampuan dan kepercayaan terhadap TSBD belum seragam. Ada desa dengan struktur TSBD yang kuat tetapi belum sepenuhnya dipercaya masyarakat. Ada juga desa yang memiliki sistem deteksi dini lokal, tetapi masih kekurangan mekanisme pemantauan hulu yang memadai. Variasi ini menunjukkan perlunya forum pembelajaran antardesa agar praktik baik dapat tersebar lebih merata.

Gender dan Kepemimpinan Perempuan: Kesempatan yang Mulai Terbuka

Partisipasi perempuan dalam TSBD masih terbatas di tiga desa. Perempuan yang terlibat umumnya memegang peran administratif atau logistik dapur umum, posisi yang secara sosial sudah dianggap sebagai ranah perempuan. Tantangan yang muncul meliputi beban kerja domestik yang berat, kurangnya kepercayaan diri, serta norma yang menempatkan pengambilan keputusan sebagai wilayah laki laki.

Taman Ayu menunjukkan perkembangan berbeda. Melalui inisiatif Sekolah Setara yang didukung Gema Alam, perempuan memiliki ruang untuk belajar, mengorganisasi diri, dan tampil memimpin. Penunjukan Dilla sebagai Ketua TSBD menjadi langkah penting bagi peningkatan peran perempuan dalam pengurangan risiko bencana di Lombok Barat.

Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pengarusutamaan gender yang tidak berhenti pada keterlibatan simbolik. Pendekatan seperti Rapid Care Analysis atau Gender Action Learning System (GALS) dibutuhkan untuk mendorong perubahan peran di tingkat rumah tangga, membuka ruang waktu bagi perempuan, serta memperkuat kepemimpinan mereka secara sistematis.

Resiliensi Komunitas: Gabungan Sains, Pengetahuan Lokal, dan Solidaritas Sosial

Monitoring visit menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam literasi komunitas terhadap data cuaca. Anggota TSBD memantau informasi BMKG, mengoperasikan ombrometer sederhana, dan menyebarkan peringatan melalui kanal komunikasi desa.

Pengetahuan lokal seperti tanda sumur meluap, suara gemuruh dari hulu, atau perubahan pola musim tetap menjadi rujukan penting dan melengkapi sistem peringatan dini. Pendekatan yang memadukan sains dan kearifan lokal ini meningkatkan kewaspadaan komunitas terhadap perubahan lingkungan.

Tantangan terbesar berada pada teknologi EWS di kawasan hulu, terutama di Obel Obel yang sering terdampak banjir bandang. Keterbatasan alat otomatis dan tingginya biaya perawatan membuka kebutuhan untuk inovasi lokal, termasuk prototipe ombrometer otomatis berbasis IoT berbiaya rendah yang tengah dieksplorasi bersama Universitas Mataram.

Pada saat yang sama, modal sosial komunitas seperti gotong royong, jaringan keluarga, dan solidaritas saat krisis terbukti menjadi faktor penting ketangguhan desa. Warga saling membantu memantau sungai, mengevakuasi barang, dan menyediakan logistik darurat jauh sebelum bantuan dari luar wilayah tiba.

Kolaborasi Pentahelix: Dasar Sudah Ada namun Perlu Diperluas

Kolaborasi lintas sektor di tingkat desa berjalan cukup baik. Pemerintah desa mendukung TSBD, masyarakat memahami mekanisme evakuasi, dan beberapa desa mulai menggandeng pihak swasta.

Namun peran media dan akademisi belum terlihat optimal. Minimnya peliputan media membatasi penyebaran informasi ketika terjadi bencana, sementara keterlibatan perguruan tinggi sebagai penyedia pengetahuan, inovasi, dan riset aksi masih terbatas.

Untuk memperkuat jejaring ini, desa dapat mulai memproduksi laporan situasi singkat, memanfaatkan media sosial untuk peringatan dan pelaporan, serta bekerja sama dengan universitas dalam pengembangan teknologi EWS maupun riset kebencanaan.

Peran Penabulu dan KONSEPSI dalam Memperkuat Aksi Antisipatif

Sebagai pelaksana program, Yayasan Penabulu melalui unit MEAL dan KM memastikan monitoring dilakukan secara akuntabel, dialogis, dan berbasis data. Pendekatan partisipatif selama monitoring memberi ruang bagi komunitas untuk menilai capaian sendiri, membaca tantangan, dan merumuskan langkah lanjutan yang lebih realistis.

Hasil kunjungan ini menegaskan pentingnya kombinasi antara sistem formal desa, kepemimpinan lokal, peningkatan kapasitas teknis, serta dukungan kebijakan dan pendanaan yang konsisten.

Penutup: Ketangguhan yang Berakar pada Komunitas

Monitoring visit I CAN ACT Phase III memperlihatkan bahwa perubahan nyata muncul ketika komunitas diberi ruang memimpin agenda kesiapsiagaan. Ketangguhan tidak hanya lahir dari proyek, tetapi dari relasi sosial yang semakin kuat, dari perempuan yang mulai memimpin, dari warga yang membaca tanda alam sambil memanfaatkan data BMKG, serta dari desa yang berani mengalokasikan anggaran untuk keselamatan warganya.

I CAN ACT bukan hanya memperkenalkan aksi antisipatif sebagai metode, tetapi menghidupkan prinsip bahwa kesiapsiagaan adalah praktik kolektif yang perlu terus berlangsung di dalam keluarga, masyarakat, dan institusi desa.

Ke depan, Yayasan Penabulu melihat peluang besar untuk memperluas pendekatan ini ke wilayah lain dengan memadukan aksi antisipatif, kesetaraan gender, dan inovasi teknologi lokal sebagai fondasi ketangguhan komunitas di Indonesia.

Rekomendasi dan Tindak Lanjut

  1. Penguatan Keberlanjutan Lokal
    Membentuk forum TSBD lintas desa, menyusun exit strategy berbasis regulasi dan pendanaan desa, serta mengintegrasikan simulasi dan pemeliharaan alat EWS ke dalam APBDes.

  2. Advokasi Sistemik untuk Aksi Antisipatif
    Mendorong pengakuan Anticipatory Cash Transfer dalam regulasi Dana Desa dan dialog dengan BPBD, Bappeda, dan pemerintah provinsi agar aksi antisipatif diarusutamakan dalam kebijakan daerah.

  3. Inovasi Teknologi dan Kemitraan Akademik
    Melanjutkan pengembangan EWS berbiaya rendah bersama universitas dan memperkuat keterlibatan akademisi dalam penelitian, metode PRB, dan evaluasi dampak.

  4. Penguatan Kepemimpinan Perempuan
    Mengimplementasikan Rapid Care Analysis dan GALS di seluruh desa, mengatur jadwal pertemuan TSBD yang ramah bagi perempuan, menyediakan childcare, serta mendorong kebijakan representasi perempuan minimal 30 persen dalam struktur PRB.

  5. Jejaring Media dan Komunikasi Risiko
    Melatih TSBD membuat press release sederhana, mengoptimalkan media sosial desa, dan membangun jaringan jurnalis peduli kebencanaan di NTB.

Nama

Deden Ramadani

Email

Unit/Direktorat/Proyek

MEAL and Knowledge Management

Atasan Langsung

Direktorat Program

Date

Dec 02 2025
Expired!

Method

Luring
Category

Peran dalam Kegiatan

Observer